Upaya Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen
ABSTRAK
Pengertian
cerpen atau kepanjangannya cerita
pendek adalah sebuah karangan yang menceritakan tentang suatu alur cerita
yang memiliki tokoh cerita dan situasi cerita terbatas. Sebuah cerpen biasanya
akan langsung mengarah ke topik utama cerita karena memang alur ceritanya cuma
sekali dan langsung tamat.Pembuatan cerpen adalah trobosan siswa dalam berfikir
kreativitas dalam upaya menambah wawasan dan keterampilan dalam menulis,
menuangkan ide-ide serta imajinasinya dalam bentuk tulisan.
Dalam cerpen mempunyai
beberapa unsur diantaranya adalah sebagai berikut.
1.
Tema
cerita
2.
Alur
cerita
3.
Penokohan
4.
Latar
5.
Sudut
Pandang
6.
Gaya
Bahasa
Keenam unsur tersebut merupakan hah-hal yang sangat penting dalam
membuat cerpen guna mendapatkan hasil yang sempurna.
KATA PENGANTAR
Dengan segala nikmat dan keridhoannya, penulis memanjatkan puji dan syukur
kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan
rahmat, taufiq dan hidayah-Nya dan atas segala kemudahan yang telah diberikan
sehingga penyusunan makalah tentang “MENULIS CERPEN (Upaya Peningkatan
Keterampilan Menulis Cerpen)
Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah
merupakan suatu program pengembangan pengetahuan,keterampilan berbahasa dan
bersikap positif terhadap Bahasa dan sastra Indonesia.Selain itu proses belajar
mengajar akan terasa lebih hidup dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan
menggunakan media audio (suara), pembelajaran menulis cerpen yang menggunakan
media audio (suara) kurang maksimal digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen
karena penggunaan media audio hanya menampilkan sebuah suara yang kurang
memaksimalkan potensi siswa dalam menangkap informasi dan imajinasi yang sangat
dibutuhkan untuk mengembangkan inspirasi dan ide-idenya yang akan digunakan
untuk menulis sebuah cerpen.
Makalah ini kami buat sebagai tujuan
mempelajarai pengertiian dari cerpen, dan apa kegunaan cerpen itu sendiri bagi
siswa,dalam upaya peningkatan sastra dalam pendidikan sekolah dan perguruan
tinggi.Makalah ini juga bertujuan sebagai sarana berfikir kreatif bagi siswa
dalam mengembangkan ide-ide, imajinasi siswa untuk selalu gemar dalam menulis
dan dapat mengaplikasikan apa yang mereka dapat dari hasil menulis cerpen.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra dibangun menurut daya angan
(imajinasi), yaitu daya tangkap batin yang secara intuitif memperoleh tanggapan
atau visi yang benar dari pengalaman dan kenyataan konkret.Imajinasi dibedakan
dari fantasi. Angan dibedakan dari khayal tanpa disertai penjelasan sama
sekali, tetapi serentak dengan itu. Fantasi adalah imajinasi yang diteruskan
(dikembangkan) yang mengatasi struktur kenyataan sehari-hari.Fantasi merupakan
contoh pertama dari kesadaran imajinatif.
Pengimajian dalam sastra berguna untuk memberi gambaran
yang jelas, menimbulkan suasana khusus, membuat hidup gambaran dalam pikiran
dan pengindraan.Selain itu, untuk menarik perhatian dan memberikan kesan mental
atau bayangan visual penyair. Gambaran angan, gambaran pikiran, kesan mental,
dan bahasa yang menggambarkannya biasa disebut dengan istilah citra atau imaji
Karya sastra melekat dengan situasi dan waktu
penciptaannya. Karya sastra tahun 1920-an tentu berbeda dengan karya sastra
tahun 1966. Kadang-kadang definisi kesusastraan ingin mencakup seluruhnya
sehingga mungkin tepat untuk satu kurun waktu tertentu tetapi ternyata kurang
tepat untuk yang lain.
Beberapa definisi sastra, yaitu sastra sebagai seni
berbahasa.Sastra adalah ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam.Sastra
adalah ekspresi pikiran (pandangan, ide, perasaan, pemikiran) dalam
bahasa.Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman,
pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakainan dalam suatu bentuk gambaran
kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.
Sesuatu disebut teks sastra jika (1) teks tersebut tidak
melulu disusun untuk tujuan komunikatif praktis atau sementara waktu, (2) teks
tersebut mengandung unsur fiksionalitas, (3) teks tersebut menyebabkan pembaca
mengambil jarak, (4) bahannya diolah secara istimewa, dan (5) mempunyai
keterbukaan penafsiran.
Terdapat tiga hal yang membedakan karya sastra dengan karya
tulis lainnya, yaitu sifat khayali, adanya nilai-nilai seni/estetika, dan
penggunaan bahasa yang khas.Karya sastra dapat dikelompokkan menjadi dua
kelompok, yaitu (a) sastra imajinatif yang bersifat khayali, dan (b) sastra
non-imajinatif yang bersifat faktual.
Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah
merupakan suatu program pengembangan pengetahuan,keterampilan berbahasa dan
bersikap positif terhadap Bahasa dan sastra Indonesia.Selain itu proses belajar
mengajar akan terasa lebih hidup dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan
menggunakan media audio (suara), pembelajaran menulis cerpen yang menggunakan
media audio (suara) kurang maksimal digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen
karena penggunaan media audio hanya menampilkan sebuah suara yang kurang
memaksimalkan potensi siswa dalam menangkap informasi dan imajinasi yang sangat
dibutuhkan untuk mengembangkan inspirasi dan ide-idenya yang akan digunakan
untuk menulis sebuah cerpen.
B. Rumusan Masalah
1.
Pengetian cerpen?
2.
Seberapa besarkah
penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri
sebagai tokoh dalam cerita
dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas X SMA ?
3.
Dampak positif dengan adanya cerpen?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Menanbak
kretivitas siswa dalam menulis;
2. Memacu
kreativitas berimajinasi;
3. Mengetahui dan
memahami cerpen dan manfaat cerpen;
D. Manfaat Penulisan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan
manfaat dan kegunaan baik secara teoretis maupun secara praktis, Secara
teoritisnya makalah ini beguna sebagai pengembangan konsep penelitian tindakan
kelas . Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:
1.
Penulis sebagai wahana
penambah pengetahuan dan konsep tentang apa itu cerpen, kegunaannya serta
manfaat adanya cerpen tersebut.
2. Pembaca/Guru sebagai
media informasi tentang konsep penelitian tindakan kelas baik secara eoritis
maupun secara praktis.
E. Prosedur Penulisan Makalah
Dalam pembuatan
makalah,penulis membuat makalahdengan yang terdiri dari :
BAB
I : Pendahuluan
A.
Latar belakang masalah
B. Rumusan dan batasan
masalah
C. Tujuan makalah
D. Manfaat penulisan
makalah
BAB
II : Landasan teori
BAB III : Hasil Dan Pembahasan
A.
Hasil Makalah
B.
Pembahasan Makalah
BAB IV : Penutup
A.
Simpulan
B.
Saran
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hakikat Apresiasi Cerpen
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin
apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”.Hal ini sesuai dengan
pernyataan (Dick Hartoko dan Brahmanto, 1985: 17), bahwa kata apresiasi
dipinjam dari bahasa Inggris appreciation yang artinya penghargaan.Apresiasi
sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra.Rusyana mengutip pendapat
Hornby (1995: 6) menyatakan bahwa apresiasi bersal dari bahasa Inggris yang
artinya pemahaman dan pengenalan yang tepat; pertimbangan; penilaian;
pernyataan yang memberikan penilaian. Dalam hubungan psikologi pendidikan,
apresiasi diterangkan sebagai recognition of worth in the realm of the higher
values yang lebih lanjut diterangkan oleh Rusyana (1995: 6) apresiasi merupakan
jawaban seseorang yang lebih tinggi sehingga ia siap untuk melihat dan mengenal
nilai dengan tepat, dan menjawabnya dengan hangat dan simpatik.
Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove (lewat Aminuddin, 2002: 34) mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman serta pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire dan Taba (lewat Aminuddin, 2002: 34) mengemukakan tiga unsur inti apresiasi, yakni (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan aspek evaluatif. Aspek kognitif berkaitan dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik.Aspek emotif berkaitan dengan unsur emosi dalam upaya menghayati unsur keindahan sastra yang dihadapi. Aspek evaluative berkaitan dengn penilaianbaik buruk, indah tidak indah sesuai tidak sesuai dan sebagainya
Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove (lewat Aminuddin, 2002: 34) mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman serta pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire dan Taba (lewat Aminuddin, 2002: 34) mengemukakan tiga unsur inti apresiasi, yakni (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan aspek evaluatif. Aspek kognitif berkaitan dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik.Aspek emotif berkaitan dengan unsur emosi dalam upaya menghayati unsur keindahan sastra yang dihadapi. Aspek evaluative berkaitan dengn penilaianbaik buruk, indah tidak indah sesuai tidak sesuai dan sebagainya
Pengertian apresiasi yang lain disampaikan oleh Natawidjaja
(1982: 1) adalah penghargaan dan pemahaman atas suatu hasil seni atau budaya.
Selain itu,
(Natawidjaja, 1982: 2) mengemukakan bahwa kegiatan
apresiasi mengalami beberapa tingkatan. Tingkat pertama yaitu tingkat
penikmatan yang bersifat menonton dan merasa senang, tingkat kedua yaitu
tingkat penghargaan yang bersifat pemilikan dan kekaguman akan sesuatu hal yang
dihadapinya, tingkat ketiga yaitu tingkat pemahaman yang bersifat studi,
mencari pengertian apa sebenarnya yang dihadapi itu, tingkat keempat yaitu
tingkat penghayatan yang bersifat menyakini apa dan bagaimana hakikat produk
itu, dan tingkat kelima, yaitu tingkat implikasi yang bersifat makrifat,
memperoleh daya tepat guna, bagaimana dan untuk apa.
Selanjutnya, Jacob Sumarjo dan Saini (1997: 173) menerangkan bahwa kata apresiasi mengandung pengertian memahami, menikmati, dan menghargai atau menilai. Apresiasi sastra meliputi tiga kegiatan atau langkah, yaitu langkah pertama keterlibatan jiwa, langkah kedua tingkat penghayatan yang tepat, dan langkah ketiga pembaca dapat merelevansikan pengalaman yang ia dapat dari karya sastra dengan pengalaman kehidupan nyata yang dihadapi Sumarjo dan Saini (1997: 174-175)
Dengan mencermati teori-teori di atas, dapat diketahui bahwa apresiasi adalah suatu kegiatan pengamatan, penilaian, dan penghargaan terhadap karya sastra secara sungguh-sungguh dan berulang kali.
B. Hakikat Cerpen
Membaca
cerita pendek merupakan aktivitas komunikasi yang kompleks, karena di dalamnya
terdapat kegiatan menerjemahkan simbol untuk mengetahui isi yang tersurat
ataupun yang tersirat di dalam cerpen yang ditulis oleh pengarang.
BAB III
MENULIS CERPEN
MENULIS CERPEN
Menulis cerpen
adalah kegiatan menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang akan
disampaikan kepada orang lain (pembaca) melalui media bahasa tulis untuk
dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh penulis.
A.
Hakikat Menulis
Menulis
merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang harus dikuasai
siswa.Keterampilan ini sangat didukung oleh keterampilan membaca.Membaca adalah
sarana utama menuju ke keterampilan menulis (Murahimin, 1994: 6).Sementara itu,
pengertian menulis telah banyak di kemukakan oleh para ahli Widyamartaya (1994:
4) mengemukakan bahwa menulis dapat kita pahami sebagai keseluruhan rangkaian
kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa
tulis kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh
pengarang.Menulis bisa juga diartikan sebagai usaha untuk berkomunikasi yang
mempunyai aturan main serta kebiasaanya sendiri (Murahimin, 1994: 13).
Menulis
adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga
diartikan menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan
kehendak kepada orang lain secara tertulis. Selanjutnya, juga dapat diartikan
bahwa menulis adalah menjelmakan bahasa lisan, mungkin menyalin atau melahirkan
pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, membuat laporan, dan
sebagianya (Suriamiharja, dkk1996/1997: 2).
Dengan
mencermati teori-teori di atas, dapat dikemukakan bahwa menulis adalah kegiatan
menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan kepada orang lain
(pembaca) melalui media bahasa tulis untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud
oleh penulis.
B. Menulis cerpen
Menulis
adalah kegiatan menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan kepada
orang lain (pembaca) melalui media bahasa tulis untuk dipahami tepat seperti
yang dimaksud oleh penulis. Gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan
kepada orang lain (pembaca) oleh penulis melalui media bahasa tulis dapat
berbentuk cerpen. Berdasarkan bentuknya, Weaver yang dikutip oleh (Tarigan,
1985: 27) membuat klasifikasi tulisan menjadi empat bentuk, di antaranya adalah
mencakup urutan waktu, motif, konflik, titik pandang, dan pusat minat.
Dalam cerpen terdapat beberapa Unsur intrinsik tersebut
sebagai berikut.
1. Tema Cerita
Tema
dipandang sebagai dasar arti atau gagasan dasar umum sebuah karya.Tema menjadi
unsur cerita yang memberikan makna dan kekuatan sekaligus unsur pemersatu semua
fakta dan sarana cerita (Sugihastuti dan Suharto, 2005: 45).
2. Alur Cerita
Sebuah cerpen menyajikan sebuah cerita kepada
pembacanya.Alur cerita ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan
atau hubungan tertentu.
3. Penokohan
Sedangkan penokohan ialah pelukisan gambaran yang jelas
tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
4. Latar
Latar
menurut Kenney (dalam sugihastuti dan Suharto 2005: 54) merupakan atsmosfer
karya sastra yang mendukung masalah tema, alur dan penokohan latar meliputi
penggambaran geografis termasuk topografi pemandangan perincian perlengkapan
sebuah ruang.
5. Sudut Pandang
Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik,
siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan
ceritanya.
6. Gaya Bahasa dan Nada
Beberapa
cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah
dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu
dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya.
Dengan
mencermati teori-teori di atas, dapat diketahui bahwa menulis cerpen merupakan
kegiatan menuangkan ide atau pendapat bahkan imajinasi ke dalam bentuk tulisan
(cerpen) yang isinya menceritakan sesuatu kejadian berdasarkan urutan waktu dan
ada tokoh yang mengalami konflik.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Jadi dari
uraian diatas penulis dapat simpulkan bahwa penggunaan cerpen merupakan sarana
yang baik untuk menambah kreativitas bagi siswa dalam berfikir, berimajinasi
dan menuangkan ide-ide yang cemerlang dan menambah nilai-nilai keindahan bagi
penulis maupun pembaca dalam pembuatan karya sastra.
B. Saran
Dalam
penulisan cerpen terkadang siswa banyak yang belum mengetahui manfat dari
menulis cerpen tu sendiri, oleh karena itu dengan adanya penulisan cerpen ini
diharapkan siswa dapat membuat karya sastra yang baik dan benar dan menambah
pengetahuan dan kelincahan bagi setiap individu.
DAFTAR
PUSTAKA
Akhmadi,Mukhsin,
dkk. 1981. Kemampuan Mengapresiasi Prosa Murid SPG di Jawa Timur. Jakarta:
DEPDIKBUD Pusat Pembinaan dan Pengembagan Bahasa.
Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Algesindo.
Burhan Nurgiyantoro. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Algesindo.
Burhan Nurgiyantoro. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Chamdiah, Sri, dkk. 1981. Kemampuan Mengapresiasi Siswa SMA
DKI. Jakarta:DEPDIKBUD pusat pembinaan dn pengembangan Bahasa Jacob Sumardjo
dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesustraan. Jakarta: Gramedia Pustka Jaya.
Murahimin Ismail. 1994. Menulis Secara Populer. Jakarta:
Pustaka Jaya Press.
Natawijaya, Suparman. 1982. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta: Intermasa.
Sugihastuti dan Suharto. 2005. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Pustaka Pelajar
Suminto A. Sayuti. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media
Natawijaya, Suparman. 1982. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta: Intermasa.
Sugihastuti dan Suharto. 2005. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Pustaka Pelajar
Suminto A. Sayuti. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media
0 Response to "Upaya Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen"
Post a Comment